Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 April 2011

About Sixteen


Hujan terlalu pagi datang hari ini, belum sempat matahari ku keluar dari peraduannya. Pukul 05.00 wib, alarm ku pun berbunyi. Tak seperti biasanya hari ini belum ada sapaan pagi untukku. Ku tau mungkin di langitnya disana juga tercurah hujan, yang menimbulkan kedinginan yang sangat sehingga kembali hatinya tak beranjak dari sepotong kasur dengan selimut tebal yang hamper 2 bulan terakhir tidak dipakainya. Aku disini, sejak subuh tadi, berbaring-baring malas tanpa tahu apa yang harus ku lakukan. Haruskah aku tidur lagi, tapi tidur sesudah subuh, membuatku merasa menyesali pagi yang indah yang seharusnya ku nikmati. Tapi matahariku sepertinya malas pagi ini, tetap dalam sendunya pagi dan tertutup awan putih yang penuh kesenduan.
Ingin segera ku beranjak ke dapur dan menyeduh kopi Nescafe Cream kesukaanku, namun batang korek api yang biasaku gunakan basah, sepertinya semalam hujan begitu deras dan atap rumah yang memang sudah tua itu tak lagi mampu menahan derasnya air. Ada beberapa lobang kerapuhan yang memerah dan ditembusnya, sehingga terdapat beberapa genangan di dapur. Segera ku ambil kain pel dan me-lapnya.  Lalu ku bawa korek api yang basah itu dank u angin-anginkan ditepi jendela. Ku segera berharap, matahariku muncul dengan kecerahan yang menghapus mimpi-mimpi burukku semalam.
Mimpi-mimpi itu kembali teringat. Mimpi tentang suatu kelupaan. Matahariku lupa untuk bersinar hari ini. Sepertinya itu menjadi kenyataan di pagi ini. Matahariku belum muncul juga, padahal di laptop Compaq-ku sudah menunjukkan pukul 8:35.
Kemana dirimu matahariku. Lupakah akan hari ini, hari dimana kau muncul dalam hidupku dan selalu menyinariku. Akan ku tunggu sampai kau kembali muncul.
Sepertinya korek api itu mulai mongering, mungkin sudah bisa menyala. Aku akan beranjak ke dapur sebentar. Akan ku seduh kopi 2 cangkir. Berharap saat aku selesai menyeduhnya matahariku muncul dan kami bisa menikmatinya bersama. 





Pagi sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Ku beranjak dari tepi jendela, setelah sejaman terakhir duduk menghabiskan secangkir kopi sambil memandangi kopi yang secangkir lagi masih penuh dan mulai dingin.
“sudahlah… mungkin memang lagi malas saja”, pikirku. Aku segera beranjak ke tempat cucian. Mulai mengaduk-ngaduk cucian menggosok dan membilasnya. Sejenak kesibukanku seperti main-main air saja, maklum cucian tidak terlalu banyak. Setelah selesai, segera ku hamparkan di tali jemuran, walaupun waktu itu masih saja gerimis-gerimis kecil, berharap nanti matahariku muncul.
Siang ini, sedikit cahanya mulai tampak. Tau kah kau matahariku, senyumku langsung merekah. Hari ini tak sia-sia cucianku ku hamparkan, namun kopinya sudah dingin. Ku harap kamu mau menungguku untuk mempersiapkan makan siang kita. Tapi belum aku menyelesaikan masakanku, kamu kembali hilang. Hujan kembali turun. Tahukah kamu aku menangis  sendiri menghabiskan sedikit makan siangku. Aku masih menyisakannya di bawah tudung saji untuk makan malam kita.
Sabtu, 16 April 2011, aku ingin sesuatu membahagiakanku. Sudah pukul 20.00 Wib. Aku baru saja sampai dirumah setelah beraktivitas di organisasi kampus yang ku ikuti 2 tahun belakangan ini. Aku berharap, matahariku sampai di rumah lebih dulu dan menungguku. Tapi saat langkahku tiba di pintu rumah, rumah masih saja terkunci seperti saat ku tinggalkan setelah makan siang tadi. Ku buka kunci, segera ku benahi diri, harapanku kamu akan muncul setelah aku rapi.
Dan harapan ku terkabul, setelah tadi sedikit cahayamu di siang hari lalu kemudian hilang, kamu datang malam ini dengan sedikit kabar, namun itu sangat menggembirakanku. Tentu saja, sangat menggembirakan bagi orang yang kehilangan sepertiku. Segera ku persilakan matahariku duduk dan ku hidangkan makan malam kami.
“Selamat malam matahariku… “ tegurku sambil ku hidangkan makan malam itu.
“selamat malam bulan, kamu tampak cantik malam ini.. “, sambutmu hangat kepadaku.
Aku tahu kamu ingin selalu senyum untukku. Tapi apa kamu tak merasakan hatiku. Telah kucoba untuk membuatmu mengerti aku, tapi sepertinya kamu malam ini sangat lelah. Aku pun lelah, seharian aku di luar sana, menyibukkan diri untuk mengeringkan air mata kesedihanku, kesedihan merindukan matahariku. Tapi melihat senyummu mala mini, cukup untukku.
            “ Matahariku.. istirahat lagi ya.. “, sambil ku senyum.
            “iya sayang,,, aku istirahat ya.. nanti kalau smsmu ngak ku balas, berarti aku tertidur ya” tulismu di SMS yang ku baca di hapeku.
Hari ini kamu sungguh jauh sayang. Kamu matahariku. Aku membayangkan menyeduh kopi untukmu, menyiapkan makan siangmu, berhadapan makan malam denganmu. Sungguh ku merasakan itu. Tapi apakah kamu di sana juga merasakannya. Aku berharap, cukup 16 April 2011 ini saja kamu seperti ini, tak bersinar di duniaku. Semoga enam belas- enam belas berikutnya kamu bersinar di duniaku. 

Senin, 11 April 2011

bilo takana

Kenapa harus jujur..
Melangkah  tanpa beban atau hidup tanpa dosa. Saat ini langkah ku tertahan disudut bangunan tua yang telah berapa tahun ditinggalkan, mungkin sebentar lagi bangunan itu lapuk dimakan rayap. Ataukah masih kokoh karena tuahnya. Kini aku kembali terpaut dengan pikiran masa lampau. Saat ku harus tegar dengan keadaan.
Baru saja aku melangkah meninggalkan bangunan yang dikenal masyarakat minangkabau sebagai rumah gadang itu, tiba-tiba....”greek”...seperti pintu dibuka...ternyata rumah itu ada yang menempati. Tidak ada rasa takut menghinggapi. Seorang wanita tua, yang dengan ketuaannya mencoba turun dari tangga yang berjumlah 11 anak tangga itu.
“naiak lah nak..” sapanya ramah
Ku coba membantunya naik kembali. Dia mempersilahkan ku masuk menginjakkan kaki diatas kemegahan yag masih terjaga di rumah gadang tersebut. Takjub, dibalik kerapuhan yang terlihat diluar, ternyata di dalamnya terdapat berbagai macam pusaka. Hujan telah mempertemukan kami.
Putar balik keadaan..
Perjalananku untuk mengumpulkan data-data penelitian di jorong yang terletak dibawah kaki gunung Merapi....tiba-tiba hujan turun, dan aku menepi, merapatkan tubuh ke dinding anyaman bambu sebuah rumah gadang.
“uwak Rakinah,”katanya senyum memperkenalkan diri. Dengan ketuaaannya, dia masih menyimpan keramahan minangkabau yang sangat diagungkan.
“Indriwati, wak”, aku menyambut uluran tangannya yang sudah keriput, namun terlihat jelas ketegarannya. Sambil menunggu hujan reda, beliau mempersilahkanku mencicipi ubi rebus dari kebun dibelakang rumahnya, ditemani segelas teh manis yang hangat. Teh ini tidak hanya manis karena gulanya, tapi karena cerita yang aku dapatkan dan itu membuatku sadar akan kejujuran “hati” tentunya.
Nenek rakinah sekarang sudah berumur 78 tahun, ukuran umur yang sudah cukup tua untuk ukuran Indonesia. Dibaik gerak-geriknya yang masih terlihat kokoh, beliau memiliki masa lalu yang menurutku tidak jauh beda dengan kisahku.
Nenek rakinah dibesarkan dari keluarga yang memegang erat adat istiadat minangkabau, memiliki bapak yang bergelar DT.Rajo Ameh dan mamak Dt. Bapayuang Ameh, gelar yang sangat dihormati dan terpandang.
Menginjak dewasa, rakinah tumbuh menjadi gadis yang manis dan cantik. Menjadi bunga desa dan banyak pengagum rahasia. Namun zaman saat itu membuat rakinah hidup dalam tatanan adat yang menuntut perempuan selalu di rumah. Namun masih tetap boleh bersekolah.
Bersekolah membuatnya sedikit lega, bisa mengenal banyak pergaulan. Di sanalah dia bertemu Adit. Adit adalah laki-laki keturunan minangkabau tapi telah lama merantau di ibukota, dan kembali kekampung setelah berumur 20 tahun.